Tahun Baru Masehi Januari

Tahun Baru Masehi 1 Januari Terhapusnya Jejak Islam

By in Peristiwa, Sosial on 1 Januari 2017

Di Indonesia seperti negara lainnya di dunia yang menganut sistem kalender Gregorian, tahun baru dilaksanakan secara gegap gempita mulai dengan perayaan pesta kembang api, tiup terompet dan topi kerucut (sanbenito). Berbeda dengan tahun baru Islam (1 Muharram) yang relatif sepi, budaya pergantian tahun baru yang menandakan dimulai hitungan tahun selanjutnya menjadi budaya yang dilaksanakan secara gemerlap bahkan difasilitasi pemerintah.

Perayaan tahun baru pertama kali dilakukan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum Masehi)  setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Tiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari.

Tahun baru yang jatuh pada tanggal 1 Januari walau merupakan hari suci umat Kristiani, sekarang menjadi hal lumrah dirayakan dan menjadi tradisi sekuler yang menjadikannya sebagai hari libur umum nasional untuk semua warga dunia. Bagi agama kristen (nasrani) yang mayoritas tinggal di  Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.

Meski di luar sudut kota Jakarta banyak warga berkumpul untuk merayakan pesta menyambut pergantian tahun mulai dari bakar-bakar jagung atau ikan, ada yang berbeda di sebuah masjid An Nur yang berada di Ciracas ini. Warga selepas shalat Isya berkumpul di dalam masjid untuk membaca surat Yasin dan diisi ceramah agama sampai menjelang tepat pukul 00.00 diserukan membaca sholawat nabi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *