Runtuhnya Kejayaan Islam Andalusia Spanyol

By in Islam, Negara, Peristiwa, Sejarah on 19 November 2016

Runtuhnya Kejayaan Islam Andalusia SpanyolAndalusia adalah sebutan yang diberikan kaum Muslim terhadap kawasan Iberia (Spanyol) pada masa pemerintah mereka. Sebutan itu berasal dari kosakata vandal, suatu kelompok etnis asal Jerman atau Sicilia yang pernah menyerbu kawasan itu pada abad ke-5 M. Umat Islam menjejakkan kaki kali pertama di Andalusia atas permintaan keluarga Witiza pada Rajab 93 H/April 712 M di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad dan menguasai kawasan itu sampai Granada jatuh pada Senin, 2 Rabiul Awwal 897 H/2 Januari 1492 M.

Di bawah kepemimpiran para penguasa muslim,  Andalusia mencapai puncak masa keemasannya pada abad ke-4 H/10 M, terutama pada masa pemerintahan Abdurrahman III dan putranya, Al-Hakam II. Saat itu kawasan Andalusia menjadi salah satu pusat kebudayaan dunia. Kebudayaan Islam di kawasan tersebut saat itu mengalami perkembangan yang sangat pesat di pelbagai pusat perkotaannya, seperti Cordoba, Sevilla, Granada, dan Toledo. Kota kota tersebut mengalami perkembangan pesat di bawah pemerintahan kaum Muslim yang saat itu disebut oleh orang-orang Eropa dengan sebutan “orang-orang Moro atau Morisco”. Sebagian besar warga Andalusia yang memeluk agama Kristen pun berada dalam pelukan kebudayaan Islam. Bahkan. di antara mereka justru rela meninggalkan bahasa ibunya dan memilih memakai bahasa Arab sehingga pada akhirnya mereka pun disebut sebagai “orang-orang Mozarab”.

Akan tetapi, seabad kemudian, gerakan perlawanan Spanyol mulai tumbuh dibawah pimpinan Alfonso VI yang berhasil merebut kembali Kota Toledo. Meski demikian, perlawanan mereka masih bercorak sporadis. Baru pada 887 H/1482 M, setelah berhasil merebut kembali Toledo pada 478 H/1085 M, Cordoba pada 634 H/1236 M, dan Sevilla pada 646 H/1248 M. Dua kerajaan Spanyol di bawah pimpinan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella ikut bergabung lewat perkawinan. Sementara itu, penguasa muslim yang menguasai Granada akhirnya terjebak dalam perang saudara. Akibatnya, peristiwa itu mengantarkan jalan leluasa bagi pasukan Spanyol di bawah pimpinan Ferdinand dan Isabella untuk “memasuki” Granada pada 2 Rabi’ul Awwal 898 H/2 Januari 1492 M.

Jatuhnya Granada kembali menandai berakhirnya kekuasaan para penguasa muslim atas kawasan ini. Hal itu didasarkan pada suatu perjanjian yang terdiri atas 67 pasal. Di antara pasal-pasal tersebut adalah dijaminnya keamanan jiwa dan harta kaum Muslim, mereka tetap diperbolehkan memiliki hak milik mereka. terjaminnya kemerdekaan beragama, dan dipeliharanya harta wakaf, termasuk juga masjid dan perguruan tinggi Islam. Selama beberapa waktu penguasa baru Andalusia melaksanakan perjanjian tersebut. Namun, pada akhirnya mereka melanggar perjanjian itu dan mengusir seluruh kaum Muslim dari kawasan itu pada 1018 H/1509 M.

Di antara para penguasa muslim terkemuka di Andalusia terdapat nama-nama seperti ‘Abdurrahman Al-Dakhil, Abdurrahman Al-Ausath. ‘Abdurrahman Al-Nashir, Yusuf ibn Tasyfin, Al-Manshur
ibn Abu ‘Amr dan Muhammad ibr Al-Ahmar. Di Andalusia juga lahir sejumlah cendekiawan Muslim terkemuka, seperti Ibn Hayyan, Lisanuddin Al-Khathib. Ibn Rusyd, Ibn Thufail, Ibn Zuhr, Ibn Bajjah, Ibn Al-Baithar, Ibn Hazm, ibn Zaidun. Ibn ‘Arabi, dan Ibn Sab’in.

Saat ini Andalusia adalah daerah otoritas Spanyol yang meliputi provinsi Cordoba, Sevilla, Granada,Malaga, Jaen. Almeria, Cadiz, Ceuta, dan Huelva.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *