Muslim Pattani Thailand

Muslim Pattani Thailand, Orang Sakit Di Semenanjung Melayu

By in Islam on 1 Juni 2017

Ensiklopedia.org – Pattani, kerajaan yang wilayahnya meliputi pesisir timur Semenanjung Malaka, Teluk Siam, dan pantai Laut Tiongkok Selatan ini sebelum menjadi negeri Islam dikenal sebagai Kerajaan Hindu Brahma. Tidak diketahui secara pasti kapan kerajaan ini memeluk Islam. Namun, kalau melihat kebanyakan karya sastra sejarah, dapat diperkirakan Pattani menjadi negeri Islam pada 862 H/1457M.

Raja muslim pertama kerajaan ini ialah Sultan Ismail Syah, yang sebelum memeluk Islam bernama Raja Phya Tu Nakpa. Sepeninggalnya, putranya Sultan Muzaffar Syah diangkat menjadi Sultan Pattani. Selain mengembangkan dan memajukan negerinya, sang sultan sering melakukan lawatan ke negara tetangga, seperti Malaka dan Siam. Namun, dalam lawatan ke Siam ia diperlakukan tidak selayakrya oleh Raja Siam sehingga perlakuan ini menimbulkan perasaan terhina dalam jiwa sang sultan.

Akibatnya, ketika mengetahui Kerajaan Siam diserang Burma pada 971 H/1563 M, Sultan MuzaffarSyah bersama adiknya memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang Siam. Dengan mengerahkan dua ratus kapal perang dan ribuan pasukan, Siam akhirnya jatuh ke tangan sang sultan tahun itu juga. Tidak lama kemudian sang sultan berpulang secara mendadak di muara Sungai Chao Phraya dan dimakamkan di sana. Sebelum berpulang sang sultan memandatkan kekuasaannya kepada adiknya, Sultan Manshur Syah.

Pattani mencapai zaman keemasannya ketika diperintah empat orang ratu, yaitu Ratu Hijau (992-1025 H/1584-1616 M), Ratu Biru (1025-1034 H/1616-1624 M), Ratu Ungu (1034-1035 H/1624-1635 M), dan Ratu Kuning (1035-1062 H/1635-1651 M). Pattani pada masa itu sangat makmur dan kaya. Kekuasaannya meluas hingga ke Kelantan dan Terengganu sehingga terkenal dengan sebutan Negeri Pattani Besar. Masa kejayaan itu hanya bertahan 67 tahun.

Pada akhir abad ke-11 H/17 M, Pattani mulai kehilangan masa keemasannya. Kekuatan politik dan daya tarik pelabuhannya semakin redup, seiring dengan makin banyaknya pusat-pusat dagang baru, seperti Johor, Malaka, Aceh, Banten, dan Batavia (Jakarta). Sehingga, boleh dikatakan bahwa sejak awal abad ke-12 H /18 M pelabuhan Pattani hanya sebagai tempat persinggahan, bukan pusat dagang dan bisnis lagi.

Ditambah dengan faktor ketidakstabilan politik, perpecahan wilayah, dan krisis pucuk pimpinan, Pattani pun menjadi “Orang Sakit di Semenanjung Melayu”. Bahkan, karena kelemahan dan kelengahannya, pada 1200 H/1785 M Siam berhasil menaklukkannya. Pada saat itulah Pattani berada di bawah cengkeraman Siam. Bahkan, pada 1327 H/1909 M, lewat Perjanjian Bangkok antara Inggris-Siam, Pattani akhirnya terserap menjadi wilayah resmi Siam yang kemudian mengubah namanya menjadi Thailand. (Jejak Islam, Ahmad Rofi Usmani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *