Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

Peringati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia Lewat Kepedulian Antar Sesama

By in Kesehatan, Peristiwa on 10 Oktober 2017

Ensiklopedia.org – Kesehatan jiwa adalah sebuah tema yang sangat jarang menjadi bahasan populer di masyarakat. Bahkan mereka yang bukan dari kalangan dunia medis, mungkin tidak terlalu tahu bahwa setiap tanggal 10 Oktober masyarakat dunia tengah memperingati Hari Kesehatan Jiwa. Pada tanggal 10 Oktober 1992, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pertama kali dicetuskan oleh World Federation for Mental Health serta WHO (World Health Organization).

Karena adanya latar belakang kondisi kesehatan jiwa di dunia yang semakin memprihatinkan. Selain itu, penetapan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia juga didorong oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memperhatikan kesehatan jiwa. Entah itu mengenai diri mereka sendiri, kerabat, atau pun orang lain. Karenanya, peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini sebenarnya ditujukan sebagai upaya untuk meningkatkan prioritas global terhadap kesehatan jiwa yang seringkali kita abaikan.

 

Kesehatan Fisik Vs Kesehatan Psikis

Kesehatan merupakan salah hal yang menjadi keinginan setiap orang. Mereka tidak ingin merasakan sakit karena akan mengganggu aktivitas yang biasa di lakukan. Pada dasarnya kesehatan dibagi menjadi dua hal yaitu kesehatan jasmani dan kesehatan rohani. Kesehatan Jasmani berhubungan dengan fisik manusia namun berbeda dengan kesehatan  rohani yang berhubungan dengan kesehatan jiwa seseorang. Kita sendiri seringkali lebih memperhatikan kesehatan secara fisik atau jasmani karena menganggapnya lebih penting dibandingkan kesehatan mental atau jiwa. Hal tersebut sebenarnya cukup wajar. Mengingat gangguan terhadap kesehatan fisik biasanya lebih mudah dikenali dan dirasakan tanda-tandanya secara langsung. Misalnya saja ketika kita terkena flu, maka secara reflek kita akan segera berusaha menyembuhkan sakit flu tersebut. Entah dengan mengkonsumsi sayur dan buah dengan porsi lebih, banyak minum air putih ataupun dengan mengkonsumsi obat flu. Sehingga virus flu yang menyerang fisik kita segera dapat diatasi.

 

Gangguan Kesehatan Psikis Lebih Sulit Dikenali

Berbeda halnya dengan masalah atau gangguan yang terjadi terhadap psikis yang cenderung sulit untuk dikenali tanda-tandanya secara langsung. Misalnya saja saat kita merasakan stress dan beban pikiran yang berat. Sebenarnya kondisi psikologis kita sedang terganggu secara kesehatan. Namun kondisi stress dan beban pikiran berat tersebut tidak datang begitu saja. Melainkan merupakan hasil tumpukan berbagai tekanan masalah-masalah yang tidak terlalu besar namun makin lama makin menumpuk. Tekanan demi tekanan yang tidak tersalurkan dengan baik serta kondisi kesehatan psikis yang tidak dijaga inilah yang pada akhirnya menciptakan kondisi stress hebat dan beban pikiran. Tak jarang pula kondisi psikologis semacam itu turut andil dalam mempengaruhi kesehatan fisik. Sehingga akibat beban pikiran berat dan tingkat stress yang tinggi, berefek pada penyakit fisik seperti diabetes, vertigo, tekanan darah tinggi, dll. Pada titik ini, kita terlambat menyadari bahwa secara mental kita sedang “tidak sehat” atau sedang tidak baik-baik saja.

 

Kesehatan Jiwa Menjadi Isu Serius Dunia

Masalah kesehatan jiwa sendiri merupakan suatu masalah serius. WHO melaporkan dari 10 masalah kesehatan utama yang menyebabkan disabilitas, 5 diantaranya adalah masalah kesehatan jiwa. Diantaranya yaitu:  depresi, alkoholisme, gangguan bipolar, skizofrenia, dan obsesif kompulsif. Jadi, tidak hanya masalah fisik saja yang menyebabkan seseorang mengalami disabilitas atau tidak bisa menjalani hidup dengan normal. Kesehatan jiwa juga sangat berpengaruh. Seseorang tidak akan bisa melakukan segala sesuatu dengan baik tanpa jiwa yang sehat, meskipun fisiknya baik-baik saja.

WHO bahkan memprediksikan pada tahun 2020 mendatang depresi akan menjadi penyakit urutan kedua dalam menimbulkan beban kesehatan di seluruh negara di dunia. Dan tentunya gangguan kesehatan jiwa berat sebagaimana disebutkan WHO di atas terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam memahami kondisi kesehatan jiwanya masing-masing. Yang mungkin sekedar berawal dari gejala ringan seperti stress berat, insomnia (gangguan / kesulitan tidur), amarah yang meluap-luap dan sebagainya.

 

Faktor Penyebab Gangguan Jiwa

Lantas bagaimana seseorang dapat dikategorikan mengalami gangguan kesehatan  jiwa? Seringkali kita menganggap gangguan jiwa identik dengan gila, padahal tidak semua orang yang mengalami gangguan jiwa bisa disebut gila. Mungkin lebih tepatnya, orang gila adalah orang yang sudah mengalami gangguan jiwa akut. Menurut para ahli, sumber gangguan jiwa, baik yang melanda anak, remaja maupun orang dewasa itu bermacam-macam. Beberapa faktor penyebab gangguan jiwa tersebut diantaranya adalah :

  1. Adanya kelainan fisik pada anak, seperti autisme, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif, keterbelakangan mental, dan epilepsi. Umumnya berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
  2. Pola asuh yang salah terhadap anak.
  3. Pada gangguan jiwa ringan, faktornya bisa diakibatkan masalah pribadi. Seperti sedih karena ditinggalkan orang yang dicintai, stres akibat berbagai permasalahan dalam kehidupan sehari -hari seperti macet, beban pekerjaan yang menumpuk, tekanan hidup yang tinggi yang banyak melanda masyarakat perkotaan dan sebagainya.
  4. Perubahan lingkungan yang cepat sehingga sulit ber-adabtasi dengan kondisi tersebut.
  5. Kurang peduli dengan masalah kesehatan jiwa.

 

Makna Kesehatan Jiwa

Menurut WHO, kesehatan jiwa didefinisikan sebagai kondisi sehat dimana seseorang dapat menyadari potensi diri sendiri, mengatasi tekanan hidup normal, bekerja secara produktif, dan berkontribusi pada masyarakat. Lebih luas lagi, kesehatan jiwa memiliki dimensi fisik, mental, sosial, dan bukan semata-mata tidak menderita suatu penyakit. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa sesungguhnya orang yang sehat jiwanya adalah yang bahagia. Orang bahagia bisa merasa sedih, marah bahkan stress sesekali, tetapi tidak terus-menerus yang membuat aktivitasnya terganggu. Sehingga untuk mencegah dan menanggulangi masalah kesehatan jiwa, tentu kunci utamanya terletak pada rasa BAHAGIA itu sendiri.

 

Kebahagiaan dan Kedamaian Kunci Meraih Kesehatan Jiwa

Langkah paling sederhana untuk membangun kesehatan jiwa tentunya dengan menciptakan rasa damai dan bahagia dari dalam diri kita sendiri. Menurut para ahli psikologi, ternyata kepedulian dan kemauan untuk berbagi dengan sesama bisa menjadi cara yang efektif untuk seseorang mencapai kebahagiaan dan kedamaian jiwa. Semakin seseorang memiliki kepedulian dan empati tinggi terhadap sesamanya, semakin mudah pula untuk menemukan kebahagiaan dari berbagai arah. Kesehatan jiwa pun tanpa sadar telah terbentuk saat kita mengulurkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.

 

Healing Theraphy Melalui Sikap Peduli Sesama

Kepedulian terhadap sesama memiliki beberapa manfaat dalam upaya menjaga kesehatan jiwa, diantaranya yakni:

  1. Berbagi dan peduli terhadap mereka yang membutuhkan akan menumbuhkan rasa syukur di dalam hati, sebab Allah SWT telah memberikan begitu banyak nikmat yang mungkin tidak semua orang dapat nikmati. Saat kita sering mensedekahkan rezeki untuk makan anak-anak yatim piatu dan dhuafa, maka pada saat yang sama kita akan bersyukur karena bisa menikmati nikmatnya makanan sehat nan lezat hampir setiap hari yang mungkin hanya bisa dirasakan sesekali oleh sebagian saudara kita.
  2. Dengan memupuk kepedulian pada mereka yang membutuhkan, kita akan merasakan kebermaknaan karena bisa memberikan manfaat untuk kehidupan orang lain. Perasaan bermakna ini sangatlah penting untuk membangun kepercayaan diri untuk senantiasa melangkah menghadapi permasalahan hidup. Bahkan kita bisa menemukan semangat baru dari orang – orang yang kita bantu tersebut.
  3. Berbagi atau bersedekah atas dasar keikhlasan dapat menciptakan ketenangan dan kedamaian dalam hati kita terutama saat kita bisa turut merasakan pancaran kebahagiaan dari wajah saudara-saudara kita yang membutuhkan.
  4. Doa-doa baik yang meluncur penuh ketulusan dan keikhlasan dari mulut dan hati mereka yang kita bantu pun turut andil untuk menguatkan jiwa kita agar senantiasa kuat dalam menghadapi setiap permasalahan dan cobaan hidup

Karena banyaknya manfaat dari menumbuhkan kepedulian guna menjaga kesehatan jiwa, maka sangatlah wajar jika banyak orang yang menjadikan kepedulian, berbagi serta sedekah sebagai salah satu “healing therapy” ketika tengah menghadapi berbagai permasalahan pelik dalam hidup. Sebab membahagiakan orang lain pada dasarnya sama dengan membahagiakan diri kita sendiri.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *